Bismillah.

Berlebihan. Itu mungkin yang dirasakan oleh orang-orang yang belum bisa menerima Islam secara Kaffah. Tentang jilbab misalnya, pernah saya mendengar ucapan seorang teman yang agaknya risih melihat lautan jilbab di kampus ITS, “ini kampus atau pesantren ya? Kok banyak yang berjilbab”. Atau tentang masalah mendahulukan sholat daripada rapat, pernah saya mendengar celetukan “Sholat kan waktunya masih panjang, kita selesaikan ini dulu” atau tentang masalah-masalah kontradiktif lainnya antara dunia dan akhirat. Seolah-olah urusan dunia ini tidak ada kaitannya dengan agama. Letak agama seolah-olah hanya ada di masjid, agama hanya berhak mengurusi privasi dari masing-masing individu, tidak lebih. Agama tidak diperkenankan mengatur lebih dari itu. Urusan kenegaraan, politik, perdagangan, pendidikan, itu adalah hak murni dari konsensus dan opini  publik.

 

Banyak, yang bilang fitrah manusia adalah kebebasan.  Ya, dan secara tidak sadar mereka telah memilih untuk sekuler dan bersikap  liberal. Pernahkah mendengar ayat berikut:

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) : “Bukankah Aku ini Tuhanmu ?” mereka menjawab : “Betul (Engkau adalah Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan : “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).” al-A`raf : 172

Inilah fitrah dasar manusia.  yaitu sebagai `abd (hamba yang selalu mengabdi kepada Allah). Bukan kebebasan!  Namun demikian fitrah yang suci ini bisa berubah. Lalu menganggap dunia adalah pencapain tertinggi, akibatnya menjadikan agama sebagai ritual ibadah saja dan hanya bersifat parsial.

Demikian muncullah sebagian orang yang membenci bila Islam diterapkan secara menyeluruh  dan menganggap  penerapan  islam secara kaffah sebagai berlebihan dalam beragama.

Menyitir pendapat  salah satu pentolan JIL (Jaringan Islam Liberal),  pada kulwitnya pada desember tahun lalu, “Manifestasi lain ODA (overdosis agama) adalah kecenderungan mau meng-agama-kan segala hal, termasuk hal2 yg jelas2 duniawi”

Sebenarnya, kewajiban muslim untuk berislam secara menyeluruh (tidak setengah-setengah) terdapat dalam Al-Baqarah: 208. Yang artinya (dalam Al-Qur’an terjemahan Depag):  “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”

Tetapi,  hal ini ditafsirkan berbeda oleh Islam Liberal. Ayat yang berbunyi  “Ya ayyuhal ladzina amanu udkhulu fi al-silmi kaffah,” ditafsirkan menjadi “Wahai orang2 beriman, masuklah kalian semua ke dalam perdamaian”. Menurutnya kata “silmi” dalam bahasa Arab artinya adalah “perdamaian” dan kata “kaffah” bisa berarti “semuanya”.

Kultwit ini dibalas oleh Akmal Sjafril, penulis Islam Liberal 101 yang diberi judul Overdosin Ngawur  Ala Ulil #ODN part1. Berikut saya tulis ringkasannya.

Menurut kitab tafsir yang pernah ditulis Buya Hamka. Makna kata “as-silmi’ ada dua Pertama, as-Silmi artinya adalah Islam itu sendiri, yaitu penyerahan diri yg sempurna. Makna kedua dari kata “as-silmi” adalah “perdamaian”. Hanya saja, perdamaian yg dimaksud di sini adalah ‘perdamaian’ antara manusia dengan Tuhan. Menurut Buya Hamka, ayat ini ditujukan pada golongan Ahli Kitab yg masih bersikap munafik. Sikap mereka membuat Allah murka pada mereka, dan dengan ayat di atas, mereka dihimbau untuk rujuk kembali kepada Allah. Dengan cara itu, insya Allah mereka akan diampuni.

Sikap berlebihan dalam Islam disebut ‘ghuluw’, ada sebuah hadits yg mengatakan “Jauhilah sikap berlebihan (ghuluw) dalam beragama…” (Hadis Riwayat Imam Ahmad, Nasa’i dan Ibnu Majah). Dalam Al Qur’an juga kita temukan ayat yang membahasnya,

“Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus” (Al-Maidah: 77).

Lalu, apakah sikap berlebihan (ghuluw) yang disebutkan pada dua dalil diatas adalah menyindir muslimah yang memakai jilbab lebar karena perintah agamanya? atau muslim yang sengaja sholat awal waktu untuk mengejar sholat jamaah di masjid? Atau apakah pemerintahan yang berusaha menerapkan syariat islam? Tidak!

Islam justru jelas-jelas tidak sependapat dengan orang Nasrani dan Yahudi yang berlebihan dalam beragama. Berlebihan itu misalnya berlebihan dalam menghormati rahib-rahib, bersengaja tidak menikah dsb.

Islam juga mengkritik para sahabat Nabi saw yang berlebihan dalam beribadah. Seorang di antara mereka tidak mau makan daging. Yang lain tidak mau menikah. Yang terakhir tidak mau tidur di kasur. Maka, Rasulullah Saw menegur mereka dengan keras. Sebab, apa yang mereka lakukan itu berlebihan. Nabi saw berpuasa dan berbuka, makan daging dan menikah juga. Semua itu fitrah manusia.

Makan daging bisa menjadi ibadah, karena ia memberi nutrisi bagi tubuh. Menjaga porsinya pun ibadah. Begitu pula menikah. Dalam Islam, menikah itu ibadah. Berbeda dengan sebagian agama lain yang menganggap bahwa tidak menikah itu lebih baik. Sebaliknya, menikah dianggap menyempurnakan separuh diin. Demikian juga kalau ada orang yg beribadah semalam suntuk, itu berlebihan. Nabi saw pun tidak begitu. Didalam Qur’an, disebutkan bahwa malam adalah waktu untuk istirahat, jadi tidur pun bisa jadi ibadah.

Jelaslah, bahwa Islam itu agama yang rahmatan lil alamin. Tidak hanya ibadah parsial yang diatur dalam Islam. Tapi semua segi kehidupan manusia diatur dalam Islam. Menikah, hukum waris, muamallah, politik, sampai hubungan dengan tetangga pun diatur dalam islam. Itu semua agar segala perbuatan kita ini dilakukan dengan niat dan cara yang benar sehingga bernilai ibadah untuk Allah swt.

Sekali lagi ini semua fitrah manusia untuk senantiasa beribadah kepada Allah, sebagai `abd (hamba yang selalu mengabdi kepada Allah).

Ditulis oleh:  Wawan Triyanto